• Text

      AM630 AM404 AM251 AM1172 AM-2201 JWH-018 JWH-073 JWH-081 JWH

      Please Contact

      AM630 AM404 AM251 AM1172 AM-2201 JWH-018 JWH-073 JWH-081 JWH

      buy and sell > other

      We would like to introduce you with the new generation of our Chemical products.We are offering you new products - strong, high quality non cathinone products.We are currently offering legal and all-powerful chemicals, herbs, powder and pills.

      Tampilkan postingan dengan label Beras Dan Pasir. Tampilkan semua postingan
      Tampilkan postingan dengan label Beras Dan Pasir. Tampilkan semua postingan

      Senin, 15 Oktober 2012

      Misteri Karpet 2 x 1 Jelang Wafatnya Gus Dur



      Misteri Karpet 2 x 1 Jelang Wafatnya Gus Dur
      Jakarta, NU Online
      Beberapa hari sebelum meninggal, Gus Dur meminta Pak Acun, panggilan Akrab KH Abdul Wahid Maryanto, untuk membelikannya karpet berukuran 2 x 1 meter yang lumayan empuk dan dengan harga sekitar Rp 300.000,- Pak Acun adalah salah seorang murid sekaligus teman akrab yang menemani Gus Dur saat dirawat di rumah sakit.

      Tanpa banyak bertanya Pak Acun langsung berangkat. Ia bergegas ke bebarapa pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, tapi karpet dengan ukuran 2 x 1 meter itu tidak ditemukan. Pak Acun kembali menghadap Gus Dur.

      “Tidak ada karpet yang seukuran itu Gus. Ada sih tapi harus dipotong beberapa senti (cm),” kata Pak Acun. Namun Gus Dur tetap memintanya untuk mencari karpet dengan ukuran itu, harus pas dengan ukuran yang dipesan dan tidak bisa dipotong.

      Sampai-sampai uang Rp 300.000,- itu pun habis hanya untuk berkeliling pusat perbelanjaan dan menelpon orang kesana-kemari untuk menayakan perihal karpet 2 x 1. Pak Acun akhirnya menyerah, dan kembali menghadap Gus Dur. Ia bertanya, “Sebenarnya untuk apa karpet itu Gus?”.

      Dengan sedikit kesal Gus Dur menjawab, karpet itu akan dibeber di bawah ranjang Gus Dur, dan Pak Acun akan disuruhnya tidur di karpet itu sambil menemani Gus Dur yang sedang sakit. Biasanya Pak Acun diminta Gus Dur untuk membacakan bebarapa buku dan kitab kuning, lalu Gus Dur bercerita atau berkomentar tentang buku atau kitab kuning yang dibaca. Pak Acun mengenang saat ia diminta Gus Dur membacakan Serat Centhini, lalu Gus Dur bercerita soal Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

      Setelah menyampaikan laporan, Pak Acun keluar rumah sakit, dan ia tetap berusaha mencari karpet yang dipesan Gus Dur. Dan… Sampai Gus Dur meninggal ia belum mendapatkan karpet dengan ukuran itu. Bahkan Pak Acun tidak ada bersama Gus Dur pada saat Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya.

      Pak Acun juga tidak bisa berada di dekat makam pada saat pemakaman Gus Dur, karena saking banyaknya orang yang ingin mengikuti prosesi pemakaman itu. Namun sesaat setelah pemakaman ia berada di samping makam Gus Dur, dan dia baru menemukan misteri 2 x 1 itu.

      “Ternyata, 2 x 1 meter itu adalah liang lahat,” katanya sambil berdoa di samping makam Gus Dur.

      Cerita ringan ini disampikan Pak Acun sendiri di ruang redaksi NU Online, Jum’at (22/1). Pak Acun adalah salah seorang pengasuh Pondok Pesantern Al-Kenaniyah Jakarta Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur.

      Pada saat Gus Dur mengaji di bulan Ramadhan di Masjid Al-Munawwarah bersama para santri Ciganjur, Pak Acun selalu berada disamping Gus Dur. Ia juga yang bertugas membangunkan Gus Dur saat tertidur di sela-sela pembacaan kitab kuning. (nam)

      http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/21248/Warta/Misteri_Karpet_2_x_1_Jelang_Wafatnya_Gus_Dur.html

      Senin, 08 Oktober 2012

      Beras Dan Pasir



      Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah anggota wali songo urutan pertama. Beliau menyiarkan Islam ke tanah Jawa sambil berdagang. Bagai kunang-kunang besar yang memanggul cahaya, Maulana Malik Ibrahim datang menerangi tanah Jawa dengan Islam.

      Suatu hari dalam perjalanan dakwah ke sebuah dusun yang diberkahi dengan tanah subur, Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik orang kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir.

      Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Halaman rumahnya luas. Di sana tersusun berkarung-karung beras hasil pertanian. Rupanya Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si empunya rumah yang tak lain adalah salah seorang muridnya. Ia ingin menasihati muridnya agar meninggalkan sifat jelek itu.

      Orang kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Syekh Malik. Dihidangkanlah jamuan yang baik bagi Syekh Malik. Sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.

      “Tuan, saya lapar sekali, bisakah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik beras yang bertumpuk di halaman.

      “Mana beras? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang kaya itu.

      Pengemis tua tertunduk sedih. Ia pun beranjak pergi dengan langkah gontai. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Syekh Malik. Ternyata apa yang digunjingkan orang tentang kekikiran muridnya ini benar adanya. Syekh Malik bergumam dalam hati, dan iapun berdo’a. Pembicaraan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali.

      Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu.


      “Celaka tuan, celaka! Saya tadi mengecek beras, ternyata beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga. Ternyata tuan, semua beras yang ada di sini telah menjadi pasir!” Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.

      Orang kaya itu kaget, segera ia beranjak dari duduknya, dihampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu. Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Ia pun bersimpuh menangis.

      Syekh Malik lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis?” Syekh Malik menyindir muridnya yang kikir itu.

      “Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa!” Si murid meratap bersimpuh di kaki Syekh Malik.

      Syekh Malik tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Syekh Malik lagi.

      Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Malik ia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Ia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin ia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.

      Syekh Malik kembali berdo’a, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Hidayah dan kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.

      Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Ia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi ia menolak pengemis yang datang. Bahkan ia mendirikan mushalla dan majelis pengajian serta fasilitas ibadah lainnya.

      Itulah sekelumit kisah tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim.

      Sumber:

      http://www.sufiz.com/

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news